MIKROKONTROLER ATMEGA 16 SEBAGAI KONTROL LAMPU LORONG HOTEL MENGGUNAKAN MODULSENSOR PIR HC-SR501
KELAS
EK-2A KELOMPOK 4
Andika Effendi1, Khansa Jodi Kurniawan1,
Nabil Falah Muthi1, Rahardian Faizal Nugroho1
Program Studi Teknik
Elektronika Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang 2025/2026
Jl. Prof. Soedarto,
Tembalang, Kec, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, 50275
ABSTRAK - Sistem lampu lorong otomatis merupakan salah satu inovasi
yang bertujuan meningkatkan efisiensi energi pada area penerangan dalam
bangunan. Prototipe ini dirancang untuk mengimplementasikan sistem kontrol
lampu lorong berbasis mikrokontroler ATmega16 dengan memanfaatkan sensor PIR
HC-SR501 sebagai pendeteksi gerakan. Sistem bekerja dengan mendeteksi
keberadaan manusia di dalam lorong, sehingga lampu akan menyala secara otomatis
ketika terdapat aktivitas dan mati kembali ketika area tidak lagi dilalui.
Mikrokontroler Atmega16 berfungsi sebagai pusat kendali yang mengolah sinyal
keluaran sensor PIRvHC-SR501 dan mengatur lampu sesuai kondisi yang terdeteksi.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara
responsif dan stabil terhadap perubahan aktivitas manusia di sekitar area
deteksi. Dengan memanfaatkan sensor PIR HC-SR501 yang memiliki sensitivitas
tinggi dan waktu respon cepat, sistem ini mampu bekerja secara efisien dan
mengurangi penggunaan energi yang tidak perlu. Prototipe ini diharapkan dapat
menjadi solusi efektif dan hemat energi untuk penerangan lorong pada bangunan
seperti hotel, gedung perkantoran, dan fasilitas umum lainnya, serta menjadi
dasar pengembangan sistem otomasi pencahayaan yang lebih kompleks di masa
depan.
Kata Kunci: ATmega16, PIR HC-SR501, Mikrontroler
I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penerangan lorong
diperlukan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengguna bangunan seperti
hotel dan gedung perkantoran. Namun, lampu lorong sering dibiarkan menyala
terus-menerus meskipun tidak ada aktivitas, sehingga menyebabkan pemborosan
energi. Untuk mengatasi hal tersebut, digunakanlah sistem otomasi berbasis
sensor PIR dan mikrokontroler ATmega16 yang mampu menyalakan lampu saat
terdeteksi pergerakan dan mematikannya kembali ketika lorong kosong. Sistem ini
menawarkan solusi efisien, sederhana, dan hemat energi untuk manajemen
penerangan lorong modern.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
merancang sistem lampu lorong otomatis yang dapat menyala ketika terdeteksi
gerakan dan mati ketika lorong kosong?
2.
Bagaimana
memanfaatkan bahasa C untuk mengontrol sistem lampu lorong secara optimal?
3.
Bagaimana
memanfaatkan sensor PIR HC-SR501 untuk mendeteksi keberadaan manusia secara
akurat pada area lorong?
4.
Bagaimana
mikrokontroler ATmega16 mengolah sinyal dari sensor PIR untuk mengendalikan
lampu secara efisien?
5. Bagaimana sistem ini dapat membantu mengurangi konsumsi energi pada penerangan lorong di bangunan seperti hotel atau gedung perkantoran?
C. TUJUAN
1.
Merancang
dan membuat prototipe lampu lorong otomatis berbasis sensor PIR HC-SR501.
2.
Mengaplikasikan
bahasa C untuk mengontrol sistem lampu secara optimal.
3.
Mengintegrasikan
sensor PIR HC-SR501 dengan mikrokontroler ATmega16 untuk mengendalikan lampu
secara otomatis.
4.
Mengatur
sistem agar lampu menyala ketika mendeteksi gerakan dan mati ketika lorong
tidak digunakan.
5. Meningkatkan efisiensi penggunaan energi pada area lorong melalui sistem pencahayaan yang bekerja sesuai kebutuhan.
II. METODOLOGI
Pembuatan prototype ini dilakukan
melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1.
Studi
Literatur
o
Melakukan
pemahaman tentang mikrokontroler ATmega 16, dan sensor PIR.
o
Mempelajari
dasar-dasar pemrograman bahasa C yang digunakan untuk mengontrol sistem.
2.
Perancangan
Sistem
o
Desain
Hardware: Merancang rangkaian elektronik yang terdiri dari modul sensor PIR,
mikrokontroler ATmega 16, modul relay untuk lampu, dan adaptor 12 V.
o
Desain
Software: Menulis program berbasis bahasa C untuk membaca nilai dari sensor PIR
dan mengontrol nyala atau matinya lampu berdasarkan logic yang diberikan oleh
output digital sensor PIR.
3.
Pengujian
o
Melakukan
pengujian fungsionalitas untuk memastikan sistem bekerja sesuai fungsi yang
diinginkan.
o
Melakukan
uji coba prototipe dalam kondisi lingkungan yang menyerupai kondisi nyata
dengan menguji respons sensor PIR terhadap pergerakan tangan. Pengujian
dilakukan dengan mengayunkan atau menggerakkan tangan di depan sensor untuk
memastikan lampu menyala saat ada gerakan dan kembali mati ketika tidak ada
aktivitas.
4.
Penyusunan
Laporan
o
Menyusun
laporan akhir yang mencakup hasil perancangan, implementasi, dan pengujian
sistem sebagai prototipe lampu lorong hotel otomatis berbasis sensor PIR dengan
ATmega16.
Metodologi ini diharapkan dapat memberikan langkah sistematis dalam pengembangan prototipe dan menjamin hasil penelitian yang valid dan aplikatif.
III.
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
ALAT
DAN BAHAN
1.
Modul
ATmega16
Modul
ATmega16 merupakan salah satu platform mikrokontroler yang banyak digunakan
dalam pengembangan sistem embedded dan otomasi sederhana. Papan ini menggunakan
mikrokontroler ATmega16 sebagai komponen utama yang berfungsi untuk memproses
sinyal masukan dan mengendalikan keluaran. ATmega16 adalah mikrokontroler 8-bit
berbasis arsitektur AVR RISC yang dikenal memiliki kinerja cepat, konsumsi daya
rendah, serta struktur instruksi yang efisien.
Gambar 1. 1 ATmega 16A-PU DIP-40
Mikrokontroler ATmega16
dilengkapi dengan 16 KB memori Flash, 1 KB SRAM, dan 512 byte EEPROM, yang
menjadikannya sangat sesuai digunakan pada aplikasi pengolahan data tingkat
dasar hingga menengah. Selain itu, ATmega16 memiliki hingga 32 pin I/O, ADC
10-bit sebanyak 8 kanal, serta dukungan komunikasi seperti USART, SPI, dan I2C,
sehingga kompatibel untuk digunakan dengan berbagai sensor dan aktuator,
termasuk sensor PIR HC-SR501 yang digunakan dalam sistem lampu lorong otomatis.
2.
Relay
Gambar 1. 2 Relay
Relay
adalah perangkat elektromekanis yang digunakan untuk mengendalikan rangkaian
listrik menggunakan sinyal listrik kecil sebagai pemicu. Komponen ini terdiri
dari kumparan elektromagnetik (coil), kontak mekanis (contact), dan terminal
koneksi. Ketika arus listrik mengalir melalui kumparan, medan magnet yang
dihasilkan akan menarik kontak mekanis, sehingga rangkaian terbuka atau
tertutup sesuai konfigurasi.
3.
Modul
Sensor HC-SR501
Gambar
1. 3 Modul Sensor PIR HC-SR501
Sensor PIR HC-SR501
adalah modul pendeteksi gerakan yang bekerja berdasarkan perubahan radiasi
inframerah pasif dari tubuh manusia. Modul ini mampu mendeteksi pergerakan dalam jarak sekitar 3–7 meter dengan
sudut deteksi hingga 120°. Selain kemampuan deteksi tersebut, HC-SR501
dilengkapi dua potensiometer untuk mengatur sensitivitas jarak dan waktu tunda
(delay), serta sebuah jumper untuk memilih mode operasi sesuai kebutuhan
aplikasi. Ketika sensor mendeteksi adanya perubahan panas akibat gerakan
manusia, modul akan menghasilkan sinyal HIGH (3.3–5 V), sedangkan pada kondisi
tanpa aktivitas output kembali menjadi LOW (0 V). Kombinasi ini membuat
HC-SR501 mudah digunakan sebagai sistem otomatisasi, seperti pengendali lampu
atau perangkat keamanan.
4.
Adaptor
12V DC
Gambar 1. 4 Adaptor 12V DC
Power
supply adalah perangkat yang berfungsi untuk menyediakan energi listrik dengan
tegangan dan arus yang sesuai untuk mengoperasikan perangkat elektronik. Dalam
sistem berbasis mikrokontroler atau sensor, power supply bertindak sebagai
sumber daya utama untuk memastikan kinerja komponen berjalan stabil dan
efisien.
5.
Lampu
12V DC
Gambar 1. 5 Lampu 12V DC
Lampu
DC 12V yang berfungsi sebagai pencahayaan yang dirancang untuk bekerja pada
tegangan searah (DC) dengan nilai nominal 12 volt.
B.
DIAGRAM
BLOK
C.
FLOWCHART
D.
SCHEMATIC
RANGKAIAN
E.
KODE
PROGRAM
//=======================
PUSTAKA =======================
#include
<mega16.h> //Pustaka ATMega16
#include <delay.h> //Pustaka delay
// ==================== PIN
DEFINISI ====================
#define PIR1 PIND.0
// Sensor PIR 1 pada pin PD0
#define PIR2 PIND.1
// Sensor PIR 2 pada pin PD1
#define RELAY1 PORTC.0 // Relay 1 pada PC0 (Lampu 1 & 2)
#define RELAY2 PORTC.1 // Relay 2 pada PC1 (Lampu 3 & 4)
// ==================== PROGRAM
UTAMA ====================
void main(void)
{
// ---- I/O SETUP ----
DDRD = 0b00000000; // PORTD
sebagai input (PIR)
PORTD = 0b00000011; // Aktifkan
pull-up pada PD0 & PD1
DDRC = 0b00000011; // PC0
& PC1 sebagai output (relay)
PORTC = 0b00000000; // Matikan
semua relay awalnya
while(1)
{
// ============ SENSOR PIR 1
===============
if(PIR1 == 1)
{
RELAY1 = 0; // Relay 1 ON
}
else
{
RELAY1 = 1; // Relay 1 OFF
}
// ============ SENSOR PIR 2
===============
if(PIR2 == 1)
{
RELAY2 = 0; // Relay 2 ON
}
else
{
RELAY2 = 1; // Relay 2 OFF
}
delay_ms(50); // Debounce sensor
}
}
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
CARA
KERJA RANGKAIAN
Sistem terdiri dari dua sensor PIR
yang masing-masing ditempatkan pada lantai 1 dan lantai 2. Setiap sensor PIR
memberikan sinyal HIGH ke mikrokontroler ATmega16 ketika mendeteksi adanya
gerakan. Sinyal dari kedua PIR masuk ke pin input mikrokontroler melalui jalur
logika digital.
Ketika ATmega16 menerima sinyal HIGH
dari salah satu sensor PIR, mikrokontroler akan memproses input tersebut dan
mengaktifkan output pada pin yang terhubung ke driver relay. Relay kemudian
menyalakan lampu pada lantai yang sesuai (lampu 1 atau lampu 2). Selama sensor
PIR terus mendeteksi pergerakan, sinyal HIGH tetap diberikan, sehingga relay
tetap aktif dan lampu tetap menyala.
Jika tidak ada pergerakan lagi,
sensor PIR kembali mengirimkan sinyal LOW. ATmega16 lalu menghitung waktu tunda
(delay) tertentu dari program. Jika selama waktu tersebut tidak ada gerakan
terdeteksi, mikrokontroler memutus sinyal ke relay dan lampu akan mati secara
otomatis.
Dengan mekanisme ini, setiap lampu
bekerja berdasarkan sensor PIR di lantainya masing-masing, sehingga rangkaian
dapat mengontrol lampu secara independen, efisien, dan otomatis.
B.
FOTO
PROTOTIPE
V.
KESIMPULAN
Prototipe
sistem lampu lorong otomatis berbasis sensor PIR dan mikrokontroler ATmega16
berhasil bekerja sesuai fungsi yang dirancang. Lampu dapat menyala secara
otomatis saat terdeteksi pergerakan dan mati kembali ketika lorong kosong,
sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien. Sistem ini terbukti
sederhana, responsif, dan mudah diterapkan, sehingga dapat menjadi solusi
efektif untuk mengurangi pemborosan energi pada area lorong yang jarang
dilalui.
VI.
REFERENSI
Rangkuti,
Nanda Rahman, dan Wildian. 2014. “Rancang Bangun Sistem Otomasi Penyalaan Lampu
Ruang Kuliah Berbasis Mikrokontroler ATmega8535 dengan Detektor PIR
Paradox-465.” Jurnal Fisika Unand, Vol. 3, No. 3, hal.
184–190.
Kusumo, R. P., dan Adityo, D. 2008. Sistem Deteksi Orang dalam Ruangan untuk Pengaturan Lampu
Ruang Kuliah. Skripsi. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
VII.
LAMPIRAN
A.
LINK
YOUTUBE
B.
LINK
PPT
Komentar
Posting Komentar