SMART WATERING SYSTEM BERBASIS ATMEGA 8535

 

LAPORAN
SMART WATERING SYSTEM

BERBASIS ATMEGA8535

 


  

Dosen Pengampu:

Dr. Samuel Beta Kuntardjo, Ing.Tech., M.T.

 

            Disusun Oleh:

        1.     ADITYA BINTANG M               EK-2A                   3.32.24.0.02

        2.     DZULFI AMALIA                       EK-2A                   3.32.24.0.08

        3.     EZRA FEBRINT K                      EK-2A                   3.32.24.0.10

        4.     RIZQI ROBBANI A                     EK-2A                   3.32.24.0.22

 


     PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2025

 

 

Abstrak

Eco-Irrigation System berbasis mikrokontroler ATmega8535 merupakan sistem penyiraman tanaman otomatis yang dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mendukung konsep pertanian modern. Sistem ini menggunakan sensor kelembaban tanah untuk memantau kondisi media tanam secara real-time. Data kelembaban yang terbaca ditampilkan pada LCD sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi tanah secara langsung. Ketika nilai kelembaban berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan, mikrokontroler mengaktifkan pompa air secara otomatis hingga tingkat kelembaban kembali stabil. Selain itu, sistem ini dirancang dengan logika kontrol sederhana namun efektif, sehingga mampu bekerja secara mandiri tanpa pengawasan intensif. Implementasi Eco-Irrigation System ini diharapkan dapat mengurangi pemborosan air, meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman, serta memberikan solusi praktis pada proses penyiraman berbasis otomatisasi. Dengan demikian, sistem ini berpotensi diterapkan pada skala rumah tangga maupun pertanian kecil untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Kata kunci: ATmega8535, penyiraman otomatis, sensor kelembaban tanah, LCD, pompa air,

Abstract

The Eco-Irrigation System based on the ATmega8535 microcontroller is an automatic plant-watering system developed to improve water-use efficiency and support modern agricultural practices. The system utilizes a soil moisture sensor to monitor the condition of the growing medium in real time. The detected moisture data are displayed on an LCD, allowing users to observe soil conditions directly. When the moisture level falls below the predetermined threshold, the microcontroller automatically activates the water pump until the soil moisture returns to a stable level. Additionally, the system is designed with a simple yet effective control logic, enabling it to operate independently without intensive supervision. The implementation of this Eco-Irrigation System is expected to reduce water wastage, enhance plant growth quality, and provide a practical solution for automated irrigation. Therefore, this system has the potential to be applied in household-scale cultivation as well as small-scale agriculture to increase efficiency and productivity.

Keywords: ATmega8535, automatic irrigation, soil moisture sensor, LCD, water pump.

  

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan jurnal berjudul “Smart Watering system Menggunakan Mikrokontroler ATmega8535 dan Sensor soil moisture”. Penulisan jurnal ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan teknologi hemat air untuk penyiraman tanaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jurnal ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi mikrokontroler ATmega8535 dan sensor soil moisture untuk menciptakan sistem penyiraman  otomatis. Penulis berharap bahwa penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan inovasi teknologi yang serupa di masa mendatang.

Dalam penyusunan jurnal ini, penulis menyadari bahwa keberhasilan penelitian dan penyusunan laporan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1.     DR. Samuel Beta K., Ing.Tech, M.T., yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan masukan selama proses penelitian dan penulisan jurnal ini.

2.     POLINES, yang telah menyediakan fasilitas pendukung untuk kelancaran penelitian.

3.     Keluarga dan teman-teman, atas doa, dukungan, serta motivasi yang selalu diberikan.

Penulis menyadari bahwa jurnal ini masih memiliki keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan karya ini di masa mendatang.

Akhir kata, penulis berharap semoga jurnal ini dapat memberikan manfaat, baik secara akademis maupun praktis, bagi semua pihak yang membacanya.

 

Hormat Kami

 

[Aditya,Dzulfi,Ezra,Rizqi]

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Penyiraman merupakan salah satu aktivitas paling penting dalam perawatan tanaman, karena air berperan sebagai elemen utama yang mendukung proses fisiologis seperti fotosintesis, transpirasi, serta transportasi nutrisi dari tanah ke seluruh bagian tanaman. Tanpa suplai air yang cukup, tanaman tidak mampu menjalankan fungsi biologisnya secara optimal. Pada metode konvensional, kegiatan penyiraman sepenuhnya dilakukan oleh manusia dan biasanya mengikuti jadwal tertentu. Namun, pendekatan manual ini kerap menimbulkan berbagai kendala (misalnya tanaman yang tidak tersiram, aktivitas yang terlewat karena kesibukan, atau kondisi fisik pengguna yang tidak memungkinkan. Kekurangan air dapat menyebabkan tanaman mengalami stres, pertumbuhan terhambat, bahkan berujung pada kematian.

      Disisi lain, penyiraman yang berlebihan juga tidak kalah berbahaya, karena dapat memicu pembusukan akar dan mengganggu proses penyerapan nutrisi. Ketidaktepatan dalam jumlah dan frekuensi penyiraman berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan pH tanah yang berdampak buruk pada perkembangan tanaman. Seiring berkembangnya teknologi pertanian, penggunaan sensor kelembapan dan sensor suhu tanah dalam sistem penyiraman otomatis menjadi solusi inovatif yang sangat dibutuhkan. Parameter kelembapan dan suhu tanah menjadi indikator utama kualitas media tanam, di mana sebagian besar tanaman memerlukan tingkat kelembapan sekitar 20%–60% serta suhu optimal antara 20 °C hingga 35 °C.Dengan kemampuan memberikan informasi kondisi tanah secara real-time, teknologi sensor membantu menentukan waktu penyiraman yang tepat dan kuantitas air yang sesuai. Sistem otomatis seperti ini terbukti dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, memaksimalkan pertumbuhan tanaman, serta mencegah risiko kerusakan akibat penyiraman yang kurang atau berlebih

      B.   RUMUSAN MASALAH

           Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa perumusan masalah yang harus                       diperhatikan, yaitu:

            1. Bagaimana cara kerja sensor kelembaban tanah dan sensor suhu

            2. Bagaimana cara menguntegrasiakn sensor kelebaban tanah,sensor suhu,                               ATmega8535 Untuk menghasilkan sistem penyiraman otomatis

     C. BATASAN MASALAH

          Dalam pembuatan projek ini terdapat Batasan masalah terhadap sistem ini, yaitu

              1. Sistem hanya dapat menampilkan kelembaban tanah dan suhu tanah

              2. Sistem dirancang untuk skala pemakaian yang kecil

      D. TUJUAN 

           Tujuan dari pembuatan projek ini yaitu:

1. Merancang alat penyiram tanaman otomatis menggunakan ATmega8535

2. Mendapatkan kualitas hasil tanaman yang lebih baik dengan memanfaatkan alat      penyiram tanaman otomatis

3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air


BAB II

METODOLOGI

 

1.   Perancangan Konseptual (Tahap 1): Tahap awal ini berfokus pada pemilihan komponen utama, meliputi penentuan sensor kelembaban tanah dan sensor suhu yang akan digunakan, serta penetapan mikrokontroler ATmega8535 sebagai unit pengendali utama.

2.   Perancangan Perangkat Keras (Hardware): Pada tahap kedua, dilakukan studi literatur mendalam dari jurnal ilmiah, buku, dan artikel internet. Tujuannya adalah untuk memahami teknologi yang relevan dan cara kerja setiap perangkat, yang kemudian menjadi dasar dalam menentukan komponen yang paling tepat dan efisien yang akan diintegrasikan ke dalam alat. Ketepatan pemilihan material sangat penting untuk menjamin alat berfungsi optimal dan tanpa kendala.

3.  Perancangan Perangkat Lunak (Software): Setelah hardware ditentukan, dilanjutkan dengan penyusunan script (pemrograman) untuk setiap komponen. Proses coding dilakukan menggunakan lingkungan pengembangan yang sesuai (seperti CV AVR, disesuaikan dengan pemrograman ATmega8535) untuk mengendalikan fungsi masing-masing bagian.

4.   Kalibrasi dan Integrasi: Selanjutnya, dilakukan kalibrasi sensor untuk menjamin akurasi data. Langkah ini diikuti dengan mengintegrasikan seluruh komponen elektronik. Mikrokontroler kemudian diprogram untuk membaca data sensor dan mengambil keputusan penyiraman berdasarkan batas nilai kelembaban dan suhu yang telah ditetapkan.

5.    Uji Coba dan Analisis Data: Sistem yang sudah terintegrasi akan diinstal dan diuji coba. Jika hasil pengujian awal tidak memenuhi parameter yang diharapkan, proses perancangan hardware akan diulang hingga alat berfungsi dengan baik. Setelah pengujian berhasil, dilakukan pengambilan data secara sistematis yang kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan dari kinerja sistem.

 

BAB III

KAJIAN PUSTAKA

 

A.    Sensor Kelembapan Tanah

Sensor Kelembaban Tanah (Soil Moisture Sensor) merupakan perangkat kunci yang berfungsi untuk mengukur kadar air yang terkandung di dalam tanah.Untuk memastikan hasil pengukuran tetap akurat dan konsisten, sensor ini membutuhkan kalibrasi berkala.Kalibrasi adalah prosedur penting yang melibatkan penyesuaian pembacaan yang dihasilkan sensor. Penyesuaian ini dilakukan agar output sensor selaras dengan nilai referensi (acuan) yang diperoleh dari metode pengukuran yang telah teruji akurasinya. Proses kalibrasi ini krusial untuk menjamin data kelembaban yang diterima sistem selalu presisi

Dalam proyek ini, sensor soil measure memegang peran penting untuk mendeteksi kelembaban sebagai input utama sistem. Kombinasi antara sensor soil moisture dan mikrokontroler ATmega8535 memungkinkan sistem bekerja secara otomatis untuk mengontrol pompa air dan lCD dengan respons cepat. Dengan cakupan deteksi yang luas dan keandalan tinggi, sensor soil measure mendukung tujuan proyek untuk menciptakan sistem penyiraman otomatis yang hemat energi dan ramah lingkungan. 

 


 

Gambar 3.1 Sensor Soil Moisture 

  

B.    ATmega8535

ATmega8535 adalah sebuah mikrokontroler 8-bit yang dikembangkan berdasarkan arsitektur AVR, beroperasi hingga frekuensi 16 MHz. Perangkat ini didukung oleh memori flash program sebesar 16 KB, RAM 1 KB, dan EEPROM 512 byte. Fitur-fitur penting yang dimilikinya mencakup ADC 10-bit, kemampuan komunikasi serial, dan timer/counter, menjadikannya pilihan yang ideal untuk berbagai aplikasi embedded seperti kontrol perangkat elektronik dan otomasi

Mikrokontroler ATmega8535 dipilih karena keandalan, kemampuan pemrograman yang luas, serta kompatibilitasnya dengan berbagai perangkat pendukung seperti sensor dan modul relay. Dengan kemampuannya untuk menangani tugas-tugas pemrosesan sinyal secara real-time, ATmega8535 menjadi pilihan ideal untuk mengimplementasikan sistem penyiraman otomatis berbasis deteksi kelembaban tanah



 


 Gambar 3.2 ATmega8535

 

C.    Pompa Air mini

Pompa air mini 5V adalah sebuah perangkat kompak yang dibuat untuk memindahkan cairan secara efisien dalam skala kecil.

Pompa ini ideal untuk beragam proyek seperti akuarium, robotika, atau sistem irigasi rumah tangga. Pompa ini bekerja pada tegangan DC rendah (umumnya antara 3V hingga 5V).Kapasitas kinerjanya cukup mumpuni, dengan laju aliran air maksimum berkisar antara 80 hingga 120 liter per jam dan mampu menaikkan air (ketinggian angkat) hingga 110 cm.Salah satu model yang sering digunakan adalah jenis submersible (dapat dicelupkan) dengan desain tanpa sikat (brushless), yang memastikan pengoperasiannya lebih senyap. Dengan berat sekitar 40 gram, pompa ini ringan dan mudah diintegrasikan ke dalam proyek yang dikendalikan mikrokontroler seperti berbasis ATmega8535 atau Arduino, di mana dibutuhkan pemindahan air yang terkontrol dan otomatis.

Dalam proyek ini, pompa air 5V digunakan sebagai perangkat output utama yang berfungsi untuk penyiraman tanaman .Pompa  ini dihubungkan ke relay, yang dikendalikan oleh mikrokontroler ATmega8535 berdasarkan sinyal dari sensor soil moisture. Pompa  dapat menyala dan mati sesuai kebutuhan, mendukung efisiensi energi dan air sekaligus memberikan kenyamanan pengguna. Penggunaan pompa air juga memastikan kompatibilitas penuh dengan komponen elektronik lainnya dalam sistem.

 

        Gambar 3.3 Pompa Air Mini

 

D.    Relay

Relay adalah perangkat elektromekanis yang berfungsi sebagai saklar elektrik yang dioperasikan secara otomatis. Perangkat ini digunakan untuk mengontrol aliran listrik ke suatu beban (seperti pompa air) menggunakan sinyal listrik kecil. Relay memungkinkan pengendalian perangkat berdaya tinggi dengan menggunakan tegangan dan arus yang jauh lebih rendah, sehingga sering digunakan dalam sistem kontrol berbasis mikrokontroler.

Relay dalam proyek ini dihubungkan ke salah satu port I/O mikrokontroler ATmega8535. Sinyal keluaran digital dari mikrokontroler mengontrol koil relay untuk mengalihkan status kontak saklar. Dengan menggunakan relay, kipas dapat dihidupkan dan dimatikan secara otomatis sesuai dengan deteksi gerakan oleh sensor soil moisture

Penggunaan relay memungkinkan sistem bekerja dengan aman dan efisien, karena pompa dapat dikontrol secara otomatis tanpa memerlukan campur tangan manual, mendukung tujuan proyek untuk menciptakan sistem hemat air yang sepenuhnya otomatis.



 Gambar 3.4 Relay

                                 

E.    Capasitor

Capacitor adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menyimpan dan melepaskan energi dalam bentuk muatan listrik. Komponen ini terdiri dari dua pelat konduktor yang dipisahkan oleh bahan isolator yang disebut dielektrik. Kapasitor banyak digunakan dalam rangkaian elektronika untuk berbagai keperluan, seperti menyaring sinyal (filter), menstabilkan tegangan, menghilangkan noise, melakukan coupling dan decoupling, serta menentukan frekuensi pada rangkaian osilator. Nilai kapasitasnya diukur dalam satuan farad (F), yang menunjukkan seberapa besar muatan listrik yang dapat disimpan. Dalam aplikasi sehari-hari, kapasitor dapat ditemukan pada adaptor, power supply, rangkaian audio, hingga perangkat mikrokontroler.



 Gambar 3.5 Capasitor

F.     LCD I2C

LCD I2C adalah  modul display yang menggunakan antarmuka komunikasi I2C (Inter-Integrated Circuit) untuk menampilkan informasi seperti teks atau data dari mikrokontroler. Dibandingkan dengan LCD standar yang membutuhkan banyak pin untuk beroperasi, LCD I2C hanya memerlukan dua jalur utama, yaitu SDA (data) dan SCL (clock), sehingga sangat menghemat penggunaan pin pada mikrokontroler. Modul ini umumnya dilengkapi dengan chip backpack seperti PCF8574 yang berfungsi menghubungkan LCD dengan protokol I2C. Dengan desain yang lebih sederhana dan efisien, LCD I2C banyak digunakan pada proyek elektronika seperti monitoring suhu, kelembaban, sensor, serta sistem otomatisasi lainnya karena mudah diprogram dan mendukung tampilan karakter 16x2 atau 20x4.

 


 

 Gambar 3.6 LCD I2C

 

BAB IV

PERANCANGAN ALAT

A.    Perangkat Keras dan Rangkaian Elektronika

Komponen yang digunakan dalam pembuatan project ini di antaranya:

1)  Mikrokontroler ATmega8535

2)  Sensor soil moisture

3)  Relay

4)  pompa air mini

5)  LCD I2C

6)  Capasitor

A.    Cara Kerja

Proyek penyiram otomatis ini bekerja dengan mendeteksi kelembaban  menggunakan sensor soil moisture.ketika sensor soil moisture mendeteksi kelembaban pada kondisi tanah kering, sensor mengirimkan sinyal ke mikrokontroler ATmega8535, yang kemudian memproses sinyal tersebut. Jika pada kondisi tanah kering , mikrokontroler mengaktifkan LED hijau sebagai indikator aktif dan menghidupkan relay yang mengalirkan listrik ke pompa air mini 5V, sehingga pompa akan menyala. Sebaliknya, jika tidak pada konidisi kering, mikrokontroler menyalakan LCD I2C dan menampilkan konidisi yang sudah terdeteksi dan memutuskan relay, mematikan pompa. Sistem ini memungkinkan pompa air mini beroperasi secara otomatis sesuai dengan kelembaban .

C.    Diagram Blok



D.    Diagram Alir



E.    Gambar Rangkaian



 

F.    Program

 

/* =================================================================================

Pemrogram      : Kelompok EK-2A/2

  1. 02-Aditya Bintang          NIM:3.32.24.0.02

  2. 08-Dzulfi Amalia           NIM:3.32.24.0.08

  3. 10-Ezra Febrint K          NIM:3.32.24.0.10

  4. 22-Rizqi Robbani           NIM:3.32.24.0.23

Tgl.Praktikum  : Senin, 8 Desember 2025

==================================================================================*/

 

//=== Pustaka ===

#include <mega8535.h>

#include <delay.h>

#include <i2c.h>

#include <stdio.h>

 

//=== Konstanta ===

#define LCD_ADDR 0x27

#define THRESHOLD 450

 

//=== Variabel Global ===

unsigned int adc_value;

char str[16];

 

//=== Fungsi LCD I2C ===

void lcd_send_cmd(unsigned char cmd){

    unsigned char data_u = (cmd & 0xF0);

    unsigned char data_l = ((cmd << 4) & 0xF0);

 

    i2c_start();

    i2c_write(LCD_ADDR << 1);

    i2c_write(data_u | 0x0C);

    i2c_write(data_u | 0x08);

    i2c_write(data_l | 0x0C);

    i2c_write(data_l | 0x08);

    i2c_stop();

}

 

void lcd_send_data(unsigned char data){

    unsigned char data_u = (data & 0xF0);

    unsigned char data_l = ((data << 4) & 0xF0);

 

    i2c_start();

    i2c_write(LCD_ADDR << 1);

    i2c_write(data_u | 0x0D);

    i2c_write(data_u | 0x09);

    i2c_write(data_l | 0x0D);

    i2c_write(data_l | 0x09);

    i2c_stop();

}

 

void lcd_init(void){

    delay_ms(50);

    lcd_send_cmd(0x02);

    lcd_send_cmd(0x28);

    lcd_send_cmd(0x0C);

    lcd_send_cmd(0x06);

    lcd_send_cmd(0x01);

    delay_ms(2);

}

 

void lcd_clear(void){

    lcd_send_cmd(0x01);

    delay_ms(2);

}

 

void lcd_gotoxy(unsigned char x, unsigned char y){

    unsigned char address = (y == 0) ? (0x80 + x) : (0xC0 + x);

    lcd_send_cmd(address);

}

 

void lcd_puts(char *s){

    while (*s){

        lcd_send_data(*s++);

    }

}

 

//=== Pengesetan Awal ===

void main(void){

    unsigned int moisture_percent;

    unsigned char lcd_counter = 0;

 

    DDRA = 0x00;

    PORTA = 0x00;

 

    DDRB = 0x01;

    PORTB = 0x00;

 

    DDRC = 0x00;

    PORTC = 0x00;

 

    i2c_init();

 

    delay_ms(50);

    lcd_init();

 

    lcd_clear();

    lcd_gotoxy(0, 0); lcd_puts("FAST ADC MODE");

    lcd_gotoxy(0, 1); lcd_puts("Free Running");

    delay_ms(1500);

 

    ADMUX = (1<<REFS0) | (1<<MUX0);

    ADCSRA = (1<<ADEN) | (1<<ADATE) | (1<<ADPS2) | (1<<ADPS0);

    SFIOR &= ~((1<<ADTS2)|(1<<ADTS1)|(1<<ADTS0));

 

    delay_ms(50);

 

    ADCSRA |= (1<<ADSC);

 

    lcd_clear();

 

    while(1){

        adc_value = ADCW;

 

        if (adc_value >= THRESHOLD)

            PORTB = 0x01;

        else

            PORTB = 0x00;

 

        lcd_counter++;

        if (lcd_counter >= 50){

            lcd_counter = 0;

 

            lcd_gotoxy(0, 0);

            lcd_puts("ADC:");

            sprintf(str, "%4u", adc_value);

            lcd_puts(str);

 

            if (adc_value >= 1023)

                moisture_percent = 0;

            else if (adc_value <= 200)

                moisture_percent = 100;

            else

                moisture_percent = 100 - ((adc_value - 200) * 100 / 823);

 

            lcd_gotoxy(10, 0);

            sprintf(str, "%3u%%", moisture_percent);

            lcd_puts(str);

 

            lcd_gotoxy(0, 1);

            if (adc_value >= THRESHOLD)

                lcd_puts("KERING-Pompa ON ");

            else

                lcd_puts("BASAH-Pompa OFF ");

        }

 

        delay_ms(1);

    }

}

 

//=== Sub Program ===

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

4.1 Gambar Prototype

 



 Gambar 4.1 Prototype Alat

4.2  Cara Kerja

Sistem penyiraman otomatis ini bekerja dengan membaca kelembaban tanah melalui sensor soil moisture yang menghasilkan sinyal analog. Sinyal tersebut diproses oleh ADC pada ATmega8535 untuk menentukan apakah tanah dalam kondisi kering atau basah. Jika nilai kelembaban terdeteksi rendah (tanah kering), ATmega8535 mengaktifkan relay sehingga pompa air menyala dan menyiram tanaman. Setelah kelembaban tanah meningkat dan melewati batas yang ditentukan, mikrokontroler mematikan relay sehingga pompa berhenti. Proses ini berlangsung otomatis untuk menjaga kelembaban tanah tetap stabi

BAB VI

KESIMPULAN

Sistem penyiraman otomatis yang memanfaatkan mikrokontroler ATmega8535 dan sensor kelembapan tanah kapasitif dirancang sebagai solusi irigasi rumah tangga yang lebih hemat dan efisien. Melalui pemantauan tingkat kelembapan secara langsung, sistem dapat mengaktifkan pompa air secara otomatis menggunakan relay, sehingga kebutuhan air terpenuhi tanpa harus melakukan penyiraman secara manual.

VII

SARAN

 

1.     Pengembangan Akurasi Sensor

Disarankan untuk menggunakan sensor kelembaban tanah kapasitif generasi terbaru atau menambahkan proses kalibrasi multi-titik agar akurasi pembacaan lebih stabil pada berbagai jenis media tanam.

 

2.     Penambahan Sensor Tambahan

Untuk meningkatkan kemampuan sistem, dapat ditambahkan sensor suhu tanah, sensor intensitas cahaya, atau sensor pH sehingga sistem penyiraman dapat menyesuaikan kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh.

 

3.     Integrasi Sistem Berbasis IoT

Sistem dapat dikembangkan menjadi berbasis Internet of Things (IoT), sehingga pemantauan kelembaban dan kontrol pompa dapat dilakukan melalui smartphone secara real-Optimasi Konsumsi Daya

 

4.     Disarankan untuk memanfaatkan mode hemat energi pada mikrokontroler atau menambahkan catu daya berbasis panel surya agar sistem tetap bekerja efisien di area luar ruangan.

 

5.     Peningkatan Keamanan Rangkaian

Perlu ditambahkan proteksi seperti diode flyback pada relay, sekering mini, atau waterproofing pada sensor dan sambungan kabel untuk meningkatkan keandalan sistem jangka panjang.time.

 

VIII

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.      Kadir, Abdul. Pemrograman Mikrokontroler AVR ATmega8535 Menggunakan Bahasa C. Yogyakarta: Andi Offset, 2018.

 

2.      Sutanta, E. Mikrokontroler dan Interface. Jakarta: Mitra Wacana Media, 2019.

 

3.      Nazeeruddin, M. et al. "Automatic Irrigation System Using Soil Moisture Sensor." International Journal of Engineering Research & Technology, vol. 6, no. 3, 2020.

 

4.      Walt, David. AVR Microcontroller and Embedded Systems. Pearson Education, 2016.

 

5.      Hidayat, Taufiq. Panduan Dasar Sensor Elektronika. Bandung: Informatika, 2020.

 

6.      Datasheet ATmega8535 – Microchip Technology Inc., 2015.

 

7.      Capacitive Soil Moisture Sensor v2.0 – Technical Specification Sheet, DFRobot, 2021.

 

8.      Malvino, Albert & Bates, David. Electronic Principles. New York: McGraw-Hill, 2017.

 

9.      Ibrahim, Dogan. Microcontroller Based Applied Digital Control. Wiley, 2006.

 

10.   Prasetyo, A. “Implementasi Relay sebagai Saklar Otomatis dalam Sistem Kontrol Berbasis Mikrokontroler.” Jurnal Teknik Elektro Indonesia, 2022.

 

11.   Aziz, M. “Perancangan Sistem Monitoring Kelembaban Tanah Berbasis Sensor Kapasitif.” Jurnal Sains dan Teknologi, 2023.

12.   Rhodes, S. Sensors and Control Systems in Agriculture. Springer, 2020.

13.   Tiwari, P. “Low-Cost Smart Farming Using LCD and Soil Sensors.” International Journal of Modern Agriculture, 2021.

14.   Susan, K., “Design of IoT-Based Irrigation System with Relay and Moisture Sensor.” IEEE Access, 2022.

BIODATA


 


Dzulfi Amalia. Penulis dilahirkan di Semarang, 10 Desember  2005. Penulis telah menempuh pendidikan formal di SMK Negeri 07 Semarang. Penulis mengikuti seleksi mahasiswa baru Diploma 3 (D3) di kampus Politeknik Negeri Semarang dengan Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro. Penulis terdaftar dengan NIM 3.32.24.0.08

 Apabila ada kritik, saran dan pertanyaan mengenai penelitian ini, bisa menghubungi melalui       

 E-mail: zulfi.33224008@mhs.polines.ac.id

 

 


 

 

Aditya Bintang Mahendra Penulis dilahirkan di Semarang, 2 Juni  2004. Penulis telah menempuh pendidikan formal di SMK Negeri 07 Semarang. Penulis mengikuti seleksi mahasiswa baru Diploma 3 (D3) di kampus Politeknik Negeri Semarang dengan Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro. Penulis terdaftar dengan NIM 3.32.24.0.02

 Apabila ada kritik, saran dan pertanyaan mengenai penelitian ini, bisa menghubungi melalui       

 E-mail: bintang.33224002@mhs.polines.ac.id

 


 

 

 

 

 

Rizqi Robbani Penulis dilahirkan di Balikpapan, 22 September  2005. Penulis telah menempuh pendidikan formal di MAS Muharikun Najaah Klaten. Penulis mengikuti seleksi mahasiswa baru Diploma 3 (D3) di kampus Politeknik Negeri Semarang dengan Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro. Penulis terdaftar dengan NIM 3.32.24.0.22

 Apabila ada kritik, saran dan pertanyaan mengenai penelitian ini, bisa menghubungi melalui       

 E-mail: rizqi.33224023@mhs.polines.ac.id

 

 

 

 


 

 

          Ezra Febrint K Penulis dilahirkan di Kabupaten Semarang 6 Februari  2006. Penulis telah menempuh pendidikan SMA N 2 Ungaran. Penulis mengikuti seleksi mahasiswa baru Diploma 3 (D3) di kampus Politeknik Negeri Semarang dengan Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro. Penulis terdaftar dengan NIM 3.32.24.0.10

 Apabila ada kritik, saran dan pertanyaan mengenai penelitian ini, bisa menghubungi melalui       

 E-mail: ezra.33224010@mhs.polines.ac.id

IX

LAMPIRAN

 

 

1.    Link Youtube : Smart watering system berbasis Atmega 8535. EK-2A/2 

2.    Link Canva : https://www.canva.com/design/DAG6QCTEm0Q/-d8EmDd0inRFcTYdmPFYcw/edit?utm_content=DAG6QCTEm0Q&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AIR TEMPERATURE SWITCHING AND MONITORING SYSTEM DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR LM35 BERBASIS ATMEGA 16

RANCANG BANGUN KALKULATOR DIGITAL OPERASI KALI DAN BAGI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51

SISTEM LAMPU LALU LINTAS PERTIGAAN BERBASIS AT89s51 DENGAN SENSOR INFRAMERAH